Krakatau merupakan sebuah kepulauan vulkanik aktif. kepulauan ini berada di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung Krakatau mengalami letusan gunung pertama pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan ini merupakan letusan yang sangat dahsyat. Dalam letusan ini terdapat awan panas dan tsunami yang akibatnya menewaskan 36.000 jiwa. Letusan Krakatau juga menyebabkan perubahan iklim secara global. Dunia sempat gelap selama 2,5 hari yang merupakan akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari meredup sampai setahun berikutnya. Hemburan debu tampak di langit dari Norwegia sampai dengan New York.
Mulai pada tahun 1927, setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Kecepatan pertumbuhan anak gunung ini tingginya sekitar 20 inci/bulan. Setiap tahun anak gunung krakatau menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih besar 40 kaki yang disebabkan oleh material yang keluar dari gunung baru itu.
Simon Winchester menyatakan bahwa tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli Geologi memberikan prediksi mengenai letusan ini yang akan terjadi antara 2015-2083. Kemudian Prof. Ueda Nakayama, salah seorang ahli gunung api menyatakan bahwa Anak Krakatau masih relatif aman meskipun aktif serta sering ada letusan kecil. Namun yang jelas, jika Anak Krakatau meletus, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari yang sebelumnya pernah terjadi.
Dari penjelasan diatas kami ingin mengantisipasi dan mengurangi dampak dari letusan Gunung Anak Krakatau. Karena apabila letusan itu benar-benar terjadi, maka bukan saja Indonesia yang terkena dampak, melainkan dunia juga akan terkena dampaknya. Berdasarkan data yang telah kami dapat pula, bencana Gunung Anak Krakatau yang telah lama terjadi, penggunaan teknologi komunikasi hanyalah seputar pada media massa serta berita atau kabar yang bersumber dari PVNBG dan BMKG yang disiarkan melalui media massa (http://www.republika.co.id). Bencana ini sangat bahaya karena jaringannya adalah dunia. Penggunaan teknologi komunikasi saat bencana dan setelah bencana pun sangat minimal dan belum relevan untuk menjangkau seluruh daerah nasional maupun internasional. Teknologi komunikasi yang digunakan hanyalah sekedar pemberitahuan informasi status serta kondisi saat bencana dari PVNBG, BMKG, serta badan informasi bencana daerah yang ada melalui media massa (http://regional.kompasiana.com). Oleh karena itu, kami sebagai Tim dari Krakatau Awareness ingin memberikan solusi bagaimana cara mengantisipasi akan adanya letusan Gunung Anak Krakatau, meminimalisir jumlah korban dan memberikan penyuluhan tentang bencana ini kepada masyarakat luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar